Belajar Mendidik Anak dari Siti Hajar

January 16, 2010 at 4:53 am Leave a comment

Di Jakarta, pagi tanggal 10 Dzulhijah,berbondong-bondong kaum muslimin menuju tanah lapang untuk menunaikan Sholat Idul Adha. Sementara kambing dan sapi telah disiapkan untuk disembelih usai sholat nanti. Suara takbir yang menggema mengisi angkasa mengajak hati ini untuk merenung: hikmah apa yang bisa kita ambil dari perayaan Idul Adha kali ini?

Merayakan Idul Adha mau tak mau kita harus mengenang sosok Nabi Ibrahim as, Siti Hajar, dan Ismail. Manusia agung yang patut diteladani. Apalagi bagi kita, kaum muslimin Indonesia, yang masih berjuang mengatasi berbagai persoalan besar, mulai dari masalah keluarga hingga problem bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pelajaran pertama dari sejarah hidup Nabi Ibrahim adalah tentang kepeduliannya terhadap kesinambungan generasi. Bukan sekadar untuk menjaga nasab, namun lebih pada terjaminnya kesinambungan perjuangan menegakkan nilai-nilai kebenaran.

Nabi Ibrahim menghabiskan hari-harinya untuk berdakwah. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Usianya semakin tua. Ketika itulah ia tersadar bahwa harus ada generasi baru untuk melanjutkan perjuangannya. Nabi Ibrahim pun berdoa agar Allah swt. menganugerahkan kepadanya keturunan yang saleh. “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang saleh.”  Anak yang saleh, itulah yang bisa diandalkan untuk melanjutkan misi perjuangan orang tua. Tak heran jika Nabi Ibrahim memintanya.

Anak adalah anugerah sekaligus amanah. Anugerah Allah harus disyukuri kehadirannya dan amanah yang tidak boleh disia-siakan untuk dididik dengan sebaik-baiknya.

Nabi Ibrahim dan Siti Hajar telah sukses mendidik puteranya, Ismail. Sebagai isteri seorang aktivis dakwah, Siti Hajar memberikan perhatian penuh kepada anaknya. Bahkan dalam kesendirian di tengah gurun menghidupi buah hatinya. Allah swt mengabadikan perjuangan Siti Hajar membesarkan Ismail dalam ritual haji: pertama, dengan situs Hijir Ismail (pangkuan Ismail), suatu tempat mulia di sisi Ka’bah, di situlah dahulu Ismail diasuh, dididik, dan dibesarkan dalam pangkuan Siti Hajar; dan kedua, dengan rukun sai dari Bukit Shofa ke Bukit Marwah, tempat Siti Hajar berlari mencari air untuk minum anaknya.

Siti Hajar adalah pelaku utama drama pengorbanan yang ditapaktilasi jutaan manusia setiap tahun. Karena perjuangannya, wanita sederhana ini mendapat kemuliaan yang teramat tinggi di sisi Allah SWT, dengan keberadaan air Zam-zam yang berkhasiat maupun dijadikannya sa’i sebagai rukun haji. Sungguh, ini adalah penghargaan yang tiada tara bagi seorang wanita. Layaklah bila kita penasaran dibuatnya. Selain mengenangnya melalui prosesi ibadah haji, apa lagi keteladanan yang bisa kita petik dari kepribadian Siti Hajar? Terutama dalam mewujudkan keluarga yang penuh rasa syukur dan tawadhu’.

1. Keyakinan akan pertolongan Allah
Ketika Ibrahim mengajak Hajar pergi dari rumah bersama bayi mereka Ismail, Hajar belum mengetahui tujuan kepergian itu. Semuanya baru menjadi jelas setelah mereka sampai di tengah-tengah gurun pasir tandus dan Ibrahim menurunkan Hajar dan Ismail dari untanya. Di bawah terik sinar matahari yang panas menyengat, di antara pasir dan batu seluas mata memandang, wanita mana yang tak takut ditinggal sendirian di sana? Bukankah ini sama artinya dengan bunuh diri? Sangat manusiawi, jika kemudian Hajar bertanya, “Apakah ini perintah Allah?” Nabi Ibrahim as pun mengangguk dan membenarkannya. Melihat anggukan kepala suaminya, barulah hati Hajar merasa tenang. Jika itu perintah Allah, ia yakin diri dan bayinya akan selamat. Ia yakin bahwa pertolongan Allah akan segera datang menyelamatkan mereka. Maka tanpa banyak bertanya lagi, ia pun melepas suaminya pergi. Sendiri di tengah padang pasir tak berpenghuni, secara rasional tak mungkin akan menyelamatkan hidup seorang wanita lemah bersama bayinya. Namun, tak peduli betapa kecilnya kemungkinan itu, Hajar tetap optimis. Keyakinan yang amat kuat itu membuatnya tidak emosional, dan mampu berpikir jernih untuk mencari tempat perlindungan sekadarnya.

2. Pantang putus asa
Bekal makanan dan minuman telah habis, belum ada sesuatu yang terjadi. Pertolongan Allah belum datang. Namun Hajar belum putus harapan. Berbekal keyakinan yang kuat akan datangnya pertolongan Allah suatu waktu nanti, ia merasa harus berusaha berbuat sesuatu. Mencari air? Rasanya mustahil. Namun, karena Hajar tak melihat alternatif usaha lain yang lebih baik, maka ia berdiri untuk mulai mencari air. Beberapa kali ia terkecoh oleh fatamorgana sehingga ia bolak-balik menaiki bukit Shafa dan Marwah hingga tujuh kali. Jika Hajar hanya berniat mencari air, mungkin ia telah lama berhenti berlari dari bukit ke bukit, karena tahu di sana tak ada air. Ia faham bahwa yang ia lihat hanya fatamorgana. Tetapi yang dicari Hajar adalah pertolongan Allah, yang itu bisa berupa air, atau mungkin dalam bentuk yang lain.
Sekali lagi karena tak ada alternatif yang lebih baik untuk bisa dilakukan kecuali berlari mencari air, maka terpaksa pekerjaan ini yang terus ia lakukan. Hebatnya, Hajar tetap belum berputus asa dalam hitungan langkahnya yang sudah ke angka puluhan kilometer itu. Dan Allah menghadiahi usaha kerasnya itu dengan satu mukjizat, air Zam-zam! Andaikan Hajar hanya duduk bersimpuh di samping bayinya sambil merintih dan berdoa, belum tentu air Zam-zam akan dihadiahkan Allah kepadanya.  Bagaimana dengan kita? Sudahkah tekad kita untuk berusaha sekuat dan setegar Hajar, yang tiada putus asa walaupun harapan hidupnya hanya 0,01%? Hajar yang terus berbuat sesuatu walaupun secara logika tak akan ada hasilnya?

3. Taat, tak banyak protes
Perintah Allah yang aneh kepada suaminya untuk mengasingkan dirinya, sama sekali tak membuat Hajar mengingkari keimanannya kepada Allah SWT. Tak sempat terlintas prasangka-prasangka buruk terhadap Allah. Dengan ikhlas ia terima perintah Allah, dan ia pun merasa tak perlu bertanya lebih banyak kepada Nabi Ibrahim as, apalagi untuk menentangnya. Ketaatan kepada Allah telah ia letakkan lebih tinggi di atas segalanya, bahkan lebih tinggi daripada kecintaan kepada kehidupannya sendiri.

4. Ibu sekaligus ayah yang berhasil
Setelah meninggalkan istri dan anaknya di tengah padang pasir tak berpenghuni, Ibrahim tak lagi pernah ke sana untuk menengok mereka, apalagi untuk turut mendidik Ismail, anaknya. Ibrahim as hanya kembali ke tempat tersebut bertahun-tahun kemudian, ketika di tempat dahulu ia menurunkan Hajar telah terbangun perkampungan Makkah dengan air Zam-zam sebagai urat nadi kehidupannya. Saat itulah pertama kali Ibrahim bertemu kembali dengan Ismail yang telah mulai menginjak dewasa. Sekian lamanya ibunda Hajar telah membanting tulang menghidupi dan mendidik anak ini dengan tangannya sendiri.

Untuk sekian lamanya Hajar telah berhasil berperan sebagai the single parent (orang tua tunggal). Keberhasilan Hajar mendidik Ismail menjadi anak shalih tampak jelas dalam bentuk kepribadian Ismail yang amat luhur. Ismail berakhlaq baik dan sangat menghormati ayahandanya yang belum pernah ia temui sebelumnya. Dan terbukti, Ismail menunjukkan keutamaan imannya ketika ia dengan ikhlas mengiyakan permintaan Ibrahim yang diperintah Allah SWT untuk menyembelihnya. Tak ada riwayat yang mengisahkan bagaimana cara Hajar mendidik anaknya ini sehingga bisa membentuk kepribadian unggul seperti ini. Namun setidaknya kita bisa meneladani bahwa keyakinan Hajar akan datangnya pertolongan Allah, usaha keras, serta ketaatannyalah yang telah banyak berperan dalam hal ini [http://nuansaonline.net]

Entry filed under: Artikel. Tags: , .

Pengajian Semalam Suntuk Remaja LDII Babel Gerakan Insani DPD LDII Maluku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Archives

Twitter LDII News

RSS LDII.or.id

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Nuansa Online

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Blog Stats

  • 299,280 hits

%d bloggers like this: