LDII di Kota Santri

October 29, 2008 at 2:19 pm 4 comments

Hujan deras baru saja usai. Hanya rintik gerimis yang tersisa ketika Sabili tiba di Pondok Pesantren LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) di Desa Burengan, Banjaran, Kediri, Jawa Timur. Dua orang petugas Satpam tampak berjaga di kantor pos belakang pintu gerbang berwarna hijau yang memisahkan pesantren dengan dunia luar.

Kompleks pesantren yang disebut sebagai pusat pembinaan kader-kader dakwah LDII ini memang tampak megah dan mewah. Bangunan asrama santri, masjid, maupun ruang kelas dan perkantorannya terlihat rapi dan bersih. Beberapa gedung diberinama DMC (Duta Motor Club), karena konon sang pendiri pondok, Nur Hasan Ubaidah, memang doyan menunggang motor gede sejenis Harley Davidson. Hobinya itu diabadikan dalam nama DMC pada beberapa gedung di komplek pesantren seluas 2,5 hektare tersebut.

Pimpinan pesantren LDII yang sekarang, H Kuncoro Kaseno menuturkan, pondoknya didirikan oleh ulama untuk mengenalkan agama Islam berdasarkan Qur’an dan hadits. “Jadi, kami betul-betul mendasarkan ajaran Islam dari Qur’an dan Hadits. Yang kita kaji khusus Qur’an dan hadits kemudian ada juga ilmu alat (nahwu dan shorf) dan lain sebagainya,” ujarnya.

Menurut Kuncoro, sifat eksklusif yang melekat di pesantrennya tidak lepas dari situasi politik. LDII sebetulnya tidak berpolitik tapi terkena imbasnya. “Kita telah berusaha melepas kesan eksklusif itu selama bertahun-tahun. Bertahun-tahun kami menjelaskan bahwa ajaran LDII adalah Qur’an-hadits. Cuma, orang-orang masih belum mengenal. Mereka (umat Islam di luar LDII) saja yang menganggap kami tertutup,” katanya.

Selain sikap eksklusifnya, yang juga terkenal dari LDII adalah perlakuan mereka yang mengepel masjid setelah digunakan shalat oleh umat Islam non-LDII. Sehingga muncul kesan, LDII menajiskan orang di luar jamaahnya. Namun, Kuncoro dengan tegas membantah. “Kami betul-betul mempelajari bagaimana membuang najis dan bagaimana kita hati-hati terhadap najis. Amalan kita dimulai dari sholat dan sholat itu dimulai dari bersuci,” ujarnya. Mengepel masjid, menurut Kuncoro, sudah merupakan tugas rutin.

Kuncoro juga mengaku bahwa orang luar sering melakukan sholat di masjid pondoknya, bahkan pernah mendapatkan kunjungan dari Majlis Ugama Islam Singapura (MUI-nya Singapura).

Pesantren yang pernah jadi pendulang suara Golkar ini juga tidak mengajarkan fiqh empat Imam Madzhab, Maliki, Syafi’i, Hanafi dan Hambali kepada para santrinya. Madzhab-madzhab itu hanya dipelajari di kalangan ustadz saja. Yang disampaikan kepada siswa-siswi hanya yang sudah matang, terutama dari Kutubus Sittah, enam kitab hadits. Semua kitab hadits itu dipelajari secara bergantian. Jika Bukhari telah khatam diganti Muslim, Muslim khatam diganti Nasa’i dan seterusnya.

Salah seorang sesepuh pondok LDII bernama H Abdus Syakur bahkan dengan lantang menganggap kitab-kitab karangan para Imam Madzhab (kitab fiqih) sebagai sesuatu yang bohong karena tidak sesuai dengan Qur’an dan hadits. “Sampeyan (Anda) sekarang maunya menganggap unggul karangan orang atau karangannya Allah dan kitab Rasul? Lebih baik mana kitab Allah dan Rasul-Nya dibandingkan dengan karangan orang?” katanya balik bertanya.

Pria 84 tahun mantan juru sumpah Pengadilan Negeri ini mengaku telah mempelajari semua kitab Imam Madzhab semenjak kecil, namun tak satu pun yang berkenan di hatinya karena tidak sesuai dengan Qur’an-hadits. “Saya juga keturunan kiai, orangtua saya kiai, embah (kakek) saya juga kiai. Tapi saya tidak mau seperti itu, karena mereka hanya kiai yang ahli kitab seperti itu,” kata Syakur.

Syakur juga sempat memberikan nasihat. “Saya ingatkan sampeyan, bahwa orang itu pasti mati. Oleh karena itu, sampeyan harus betul-betul mempelajari Qur’an dan hadits. Nanti sewaktu-waktu pasti masuk surga kalau mempelajari Qur’an dan Hadits.”

Salah satu metode pendidikan yang terkenal di LDII adalah sistem manqul (pemindahan), di mana seorang guru mentransfer ilmunya kepada murid dengan cara berhadap-hadapan langsung.

LDII juga mempunyai suatu pelajaran bernama Qiro’atus Sab’ah, di mana manqul-nya di Malaysia. Manqul ini adalah jaminan bahwa pelajaran yang diterima adalah sesuai dengan yang diberikan Rasulullah. Jemaah LDII hanya ingin agar amalan mereka diterima oleh Allah SWT, jadi tinggal melihat bagaimana Rasulullah. Tidak ada istilah menyesatkan orang lain. “Kita hanya ingin apa yang diberikan oleh Rasul, itu yang kita pergunakan. Manqul itu adalah untuk menjaga orisinalitas,” kata Kuncoro.

Kuncoro menambahkan, ikhtilaf itu rohmatun (perbedaan adalah rahmat). Meski bukan berdasarkan Qur’an-hadits, LDII tetap menghargai umat Islam yang lain. LDII tidak mungkin memaksakan kehendak karena dalilnya sendiri ada. “Oleh karena itu, kita lebih banyak melakukan pembinaan ke dalam, beribadah yang benar menurut kita yang bisa mengantar kita masuk surga, itu saja,” ujarnya.

Kadang-kadang, kata Kuncoro, LDII sering diadu domba dan dianggap mengkafirkan orang, padahal tidak. Kenapa LDII punya masjid sendiri, karena memang kegiatannya banyak. Masjid itu bagi LDII adalah pusat kegiatan, pusat ilmu. Pengajian mereka mulai Subuh hingga Isya. Dikhawatirkan, kalau memakai fasilitas umum akan mengganggu jemaah yang lain.

Dengan berbagai keunikan dan keanehan yang melekat pada LDII, tak ayal masyarakat umum menganggap ajaran Islam yang dijalani jemaah ini adalah sesat. Berbagai tuduhan pun melayang ke ormas yang dibentuk oleh Nur Hasan Ubaidah yang juga pendiri pondok LDII Kediri.

Salah seorang pengikut LDII di Surabaya bernama Choirul Hadi, melihat tuduhan terhadap lembaganya bersifat relatif. Hanya masalah komunikasi dan soal pemahaman. Yang sering terjadi di masyarakat adalah perbedaan permahaman dan kurangnya sikap saling memahami.

Keluarga Choirul sendiri, termasuk pelopor berdirinya LDII di Surabaya. Pada tahun 1980 dia pernah mendapat penolakan frontal dari masyarakat Kota Buaya itu. Tapi ketika dicari inti masalahnya, ternyata pada bukan masalah agama namun masalah lain.

“Saya pikir, ini masalah waktu saja. Suatu saat, saya yakin masyarakat akan lebih dewasa, lebih cerdas, dan mereka memandang perbedaan itu sebagai suatu kekayaan, bukan kekurangan,” kata Choirul. (Sumber:http://chairulakhmad.wordpress.com/2007/05/09/ldii-di-kota-santri/)

Entry filed under: Opini. Tags: , , .

Hanya MUI Bisa Memberi Stempel Sesat Suryo Agung Wibowo terima Solopos Award 2008

4 Comments Add your own

  • 1. m aufa ahdi  |  November 8, 2008 at 7:00 am

    aku anak ldii tebing tinggi , aku ingin mengenal lebih banyak tengtang jurus toya

    Reply
  • 2. andie  |  November 10, 2008 at 5:53 am

    Jangan berhenti selama nafas masih ada, hidup hanya sekali di dunia gunakanlah kesempatan itu u/ mempersiapkan kita kelak di akherat, karena kita tak akan selamanya hidup d’dunia ini.

    Reply
  • 3. mukhlis  |  May 19, 2009 at 7:52 pm

    teruskan amanat yang allah berikan pada kt semua sebagai hamba yang selalu taat pada semua perintah ajaranya!!!!

    Reply
  • 4. annga  |  August 6, 2010 at 5:45 am

    selalu tepat menetapi jamaah… sampai pool ajal matinya masing-masing….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Archives

Twitter LDII News

RSS LDII.or.id

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Nuansa Online

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Blog Stats

  • 299,095 hits

%d bloggers like this: