Islam Agama Cinta Damai

September 15, 2008 at 9:15 am 19 comments

Dalam pencarian sumber riset di indonesia timur untuk sebuah kantor berita luar negeri , saya mulai pada suatu hari Jumat di Kota Makasar, karena saya saat itu [2002] baru mendarati makasar atas penerbangan dari Jakarta dan jam menunjukkan pukul 11.45, saya pun memanggil becak minta diantar ke mesjid terdekat. rupanya sang pengayuh becak juga sedang menuju masjid, “wah mas saya mau jumatan” katanya menolak saya sebagai penumpang, “tapi saya juga mau jumatan, saya sdg mencari mesjid terdekat, kalau begitu kita ke masjid saja bersama-sama”. Tak kuasa menolak, saya pun diangkut abang becak asal pasuruan yang beristrikan bugis itu.

Di perjalanan, sambil mengayuh si abang becak memberitahu saya sesuatu, “saya sholat di masjid tempat pengajian saya mas, jadi agak jauh.” setelah saya bilang bahwa saya ikut saja, saya kemali bertanya saat melintasi sebuah mesjid besar di persimpangan menuju jalan raya cerekang. “Kenapa tidak di sini saja pak, sholat jumatnya?” si Abang becak menjawab, “yang disini khotbahnya pakai bahasa Indonesia, mas. di tempat kami khotbah jadi satu sama sholat, jadi pakai bahasa arab dan tidak boleh seperti ceramah biasa.”

Benar saja, mesjidnya kira-kira 5 menit dari mesjid yang tadi sempat kami lintasi. Kira-kira berukuran 10 x 25 meter persegi, dua lantai, nampak tanpa ada kubah khas masyarakat hindu dan sikh di India, disekelilingnya berderet rumah-rumah petak berlantai dua yang merupakan tempat tinggal mubaligh dan takmir mesjid, serta dua rumah singgah untuk tamu dan sebuah dapur terbuka.

Lagi, abang becak benar, khutbah jumatnya pakai bahasa arab, untung saya sempat ber’inkubasi’ di pesantren, jadi dengan isi khutbah cukup mengerti. luar biasa, pesan perdamaian dari Alqur’an dan hadits2 nabi dipaparkan secara gamblang, sayangnya, yang tahu hanya mereka yang mengaji di masjlis taklim itu atau ornag-orang yang belajar agama Islam dengan baik. berbeda, karena biasanya saya lihat khatib dan imam adalah orang berbeda, ini benar-benar seperti di jazirah arab, khatib sekaligus imam.

Usai sholat jumat saya diperkenalkan oleh abang becak ke bapak kiyai yang menjadi khatib dan imam tadi, umurnya sekitar 32 tahun namun kharismatik dengan tsurban dan jenggot tercukur rapi. “Pak kiyai, mas ini dari Malaysia sedang bertugas disini, baru datang, tadi ikut becak saya.” dan dengan penuh keramahan saya disambut dengan baik, lalu dipanggillah seorang remaja ashabul masjid [penunggu mesjid] yang kemudian saya tahu masih kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri, UNM. Pada remaja ini saya dititipkan untuk diantar ke rumah singgah yang dinamai Rumah Sabilillah. Selama tiga hari tiga malam, hidup saya dalam jaminan di rumah sabilillah, bahkan diserahi kunci motor untuk dipakai melancarkan pekerjaan hanya dengan pesan, “hati-hati, semoga barokah.”

Petangnya ketika kembali dari hunting, habis magrib ada kesibukan kecil, tikar dan karpet digelar penuh, lantas meja-meja kecil untuk membaca al qur’an di bariskan, selembar sitrah [kain kelambu] setinggi dada orang dewasa dipasang menyekat membagi dua ruangan masjid. ternyata ada pengajian rutin yang disebut pengajian kelompok.

Acara dalam pengajian tersebut secara berurutan adalah memmbaca alquran oleh seorang muballigh dan disimak oleh seluruh hadirin yang mana-masing-masing juga memegang alqur’an, kira-kira 10 menit. Dilanjutkan kemudian selama kira-kira 20 menit adalah sesi pemaknaan atau tafsir. begitu selesai langsung dilanjutkan dengan kajian hadits [kalau tidak salah saat itu haditsnya ibni Majah], kira-kira 30 menit dengan pengajar muballigh lain lagi, masih muda kira-kira umur 18 tahun tapi luar biasa, cemerlang.

Selesai hadits, adalah sesi nasihat, tidak hanya kiyai yang nasihat, tapi bisa siapa saja yag ditunjuk oleh kiyai [ini pembelajaran yg bagus untuk menjadi pembiacar publik]. “Deg!” rupanya si abang becak tadi yang kali ini dapat giliran memberikan tausyiah.

Si abang becak mulai berpidato setelah salam dan memberikan kata pengantar, “…kita sebagai warga negara Indonesia dinasihati untuk selalu tunduk dan patuh pada pemerintah yang sah berdasarkan pancasila dan UUD 1945….dst. yang saya lihat ada nuansa nasionalisme disini. kemudian disambung panjang lebar dengan berbagai nasihat perdamaian dan pembinaan kerukunan dengan dalil-dalil sangat pas. [saya bertanya-tanya, kalau tukang becaknya saja seperti ini bagaimana dengan kiyainya ya?]

Yang tak kalah menariknya buat saya, sepanjang pengajian ini saya melihat sebentar-sebentar ada yang melempar uang sodaqah ke depan dimana agak lapang, ada juga yang ketika berdiri pulang meninggalkan uang ditempat duduknya, dan nggak ada yang iseng ngantongin! padahal mulai dari pecahan 1000an sampai 50 ribuan ada lho. abang becak bilang, ini untuk mendanai kegiatan rutin berupa pengajian yang seminggu berlangsung 4 kali. jadi tidak ada iuran wajib yang memberatkan, tapi siapa saja ingin sodaqah silahkan.

Dan mesjid yang cukup megah untuk ukuran mesjid2 disekitar itu, ternyata juga dibiayai bersama-sama para jemaat pengajian. ‘kita tidak boleh mengemis di pinggir jalan mas. malah kalau disini tidak ada lapangan beramal solih, mereka pada mencari dimana sedang ada pembangunan masjid, ikut menyumbang,
atau membangun jalan kampung…ya pokoknya hidup itu untuk ibadah mas.’

Saya terngiang nasihat abang becak, “barang siapa membangun mesjid di dunia maka Tuhan membangunkan sebuah gedung megah di akhirat.”

Lantas pada hari keempat, dengan penuh kesan saya pun pamit melanjutkan ekspedisi ke papua. tak dinyana, pak kiyai masih juga tidak mau melepas saya, “bawa alamat dan nomer telepon ini, setelah sampai bandara ditelpon saja biar dijemput,” dan sebagaimana pesannya, nomer HP yang diberikan saya panggil dari bandara Sentani, sebuah salam menyapa dari seberang. “Oh, mas mahar ya, tadi saya dapat kabar dari makasar dan sekarang saya sudah dekat dengan bandara, mas tunggu saja disitu, lima menit lagi saya sampai.”

Muda, kira-kira berumur 30 tahun, seorang supervisor di perusahaan consumer good, asal medan. “jangan sungkan, anggap saja dikampung sediri, kita semua keluarga, kalau butuh kemana-mana saya antar atau kalau mau pakai kendaraan sebaiknya jangan sendiri, selain bensin disini langka dan mahal, tradisi disini berbeda, nabrak ayam saja belum cukup motornya buat nebus.”

Rupanya saya dibawa ke Bucend II, sebuah komplek cukup wah dengan masjid ditengah2nya membuat saya serasa di kampus IIU. masjidnya penuh dengan kitab-kitab di rak yang tertata rapi. dan saya baru tahu dari sebuah plang yang ada didepan komplek [yang di makasar tidak ada papan nama]. ternyata saya dijamu oleh warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia [LDII] yang selama ini dianggap sesat, tapi saya yang tidak dikenal pun dijamu seperti keluarga, katanya mereka wajib menjamu saya karena saya adalah ibnusabil [bukan maksudnya anak jalanan, tapi seorang yang dalam perjalanan].

Enam tahun berlalu, dan saya sekarang di Jakarta, ada khabar dari teman-teman di wilayah persekutuan, serawak dan terakhir sebuah SMS dari pudu, kalau pembelajaran agama islam di malaysia, banyak yang sudah memakai kurikulum LDII. padahal setahu saya, awal 2000an, sebuah masjid di distrik Banting [ kalau tidak salah dekat dengan tanah genting] dibakar oleh orang-orang Indonesia yang tak jarang merupakan pendatang haram, dan mereka terprovokasi oleh penerbitan buku ormas-ormas islam yang tidak suka dengan LDII.

Saya jadi berpikir, kenapa dalam sekian lama LDII dibakar dan serang masjidnya tapi kok tetap bertahan bahkan semakin berkembang ke seluruh dunia? Sdr. Syaiful yang sampai sekarang jadi kontak saya di Papua, mengatakan itulah kebenaran, kalau tidak ada gangguan justru diragukan apakah yang dijalankan sudah benar. terus kalau diserang kok membalas, jangan-jangan malah lebih buruk dari yang menyerang, “kita doakan saja semoga mendapat petunjuk agar selamat dunia dan akhirat,” lanjutnya, kalau ustad jalan ditengah gerombolan pemabuk kok tidak diganggu, jangan-jangan karena ustadnya juga sedang mabok…

Kadang, sikap yang dikembangkan ini menginspirasi saya…begitulah.

Oleh: Mahar_FGD
Sumber: http://www.opensubscriber.com/message/mediacare@yahoogroups.com/9451310.html

Entry filed under: Artikel. Tags: , , .

Kajian Tentang Proses Santrinisasi Pengajian LDII di Portsmouth New Hampshire USA

19 Comments Add your own

  • 1. ldiigresik  |  September 15, 2008 at 1:06 pm

    subhanalloh, suatu cerita yang sangat menusuk sanubari, mudah2an smua orang semakin terbuka dalam menerima keramahtamahan dan keterbukaan yang ditunjukkan oleh warga LDII.

    Reply
  • 2. ASAD  |  September 17, 2008 at 5:32 am

    amiin….

    Reply
  • 3. LDII  |  September 17, 2008 at 7:35 am

    Insya Alloh, dengan terus menjalin Ukuwah yang mengedepankan Budi Pekerti yang luhur dalam bermasyarakat dan senantiasa Amar Ma’ruf Nahi Munkar, dengan sendirinya dunia akan melihat LDII dan menghapus stigma negatif yang selama ini terjadi. Semoga Alloh menjaga kita semua dengan Ridho dan Rohmatnya.

    Reply
  • 4. domba garut!~  |  September 17, 2008 at 8:50 am

    Sebuah paparan yang jujur dan mengisnpirasi. Semoga dengan demikian ldii dan warganya senantiasa menjadi contoh di masyrakat dan mengembangkan ‘hospitality’ sebagai wujud pendekatan-nya dalam komunikasi massa kedepan.

    Salam-salam dari afrika barat..

    Reply
  • 5. Teguh  |  September 17, 2008 at 4:56 pm

    Aku bangga jadi warga LDII..!

    Reply
  • 6. Harry  |  September 18, 2008 at 5:50 am

    Saya Bangga Jadi Warga LDII, ini namanya Soft Power, didunia untuk ukuran Negara baru sebagian kecil yg memiliki Soft Power, Bahkan untuk ukuran China saja belum memiliki kekuatan Soft Power yg memadai. Mudah-mudahan LDII bisa menunjukan Soft Powernya FBBL..!! Karena ini memang sifat-sifat sejatinya orang Iman..!! Siapa saja kita perlakukan dengan baik.., karena kita tidak tau apakah Hidayahnya orang itu melalui kita atau bukan..!

    Reply
  • 7. ldiibonjer  |  September 19, 2008 at 5:48 am

    Semoga cerita tersebut bisa menjadi Inspirasi bagi warga LDII yg lain untuk terus berbudi luhur, luhuring budi karena Alloh kepada saudara-saudara kita semua baik yg ngaji di ldii maupun yg belum ngaji di LDII…Marilah kita tunjukan pada dunia klo warga LDII adalah warga yg baik…bisa menjadi suri teladan di masyarakat sekitar….semoga Alloh senantiasa memberikan kekuatan dan bimbingan kepada warga LDII untuk selalu berbuat baik kepada sesama .,.Amin

    Reply
  • 8. Paidjo  |  September 23, 2008 at 9:15 am

    saya terharu membacanya. Menjadi mahluk manusia,yang katanya lebih berderajat, memang harus berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi sesama tanpa melihat kepercayaanya. Ada yang melakukan perusakan dengan berkoar allah hu akbar. Tuhan Allah kecewa berat atas peristiwa itu. Hidup LDII.

    Reply
  • 9. gindra  |  September 24, 2008 at 2:28 am

    Subhanalloh,
    terharu dan bangga, sangat bagus untuk tauladan bagi kita semua.
    Semoga kita semua bisa mencontoh perbuatan yang mulia ini .. amiin

    Reply
  • 10. Zakaria  |  September 24, 2008 at 7:43 am

    Agama Islam memang Rohmatal lil alamin, semoga LDII tetap berjaya

    Reply
  • 11. caxbari  |  September 25, 2008 at 3:41 am

    Alhamdulillah, Alloh telah menunjukkan kebenaran agama Islam yang hak lewat akhlakul karimah.
    Semoga dapat menjadi suri tauladan bagi semua, Oh ya minta ijin copas ke web saya.
    jazakumllohu khoiro

    Reply
  • 12. ary  |  September 25, 2008 at 8:07 am

    Cools story,,insaallah aku tahu siapa “mahar” ini,,silakan menuju TKP
    http://maharprastowo.blogspot.com/

    dan ini salah satu tulisannya juga tentang cara pandang LDII terhadap siaran TV

    http://www.opensubscriber.com/message/mediacare@yahoogroups.com/8210511.html

    FYI Mahar ini adalah Wartawan muda

    AJZKKH

    Reply
  • 13. myrazano  |  October 2, 2008 at 9:01 pm

    Acquaintanceship greeting and brotherhood
    Hopefully [light/ray] truth of islam increasingly shines light and enlightens all people and blessing we all …. amen …
    And I invite at my situs. Hopefully useful

    Reply
  • 14. Abu Nuru  |  November 21, 2008 at 2:00 am

    Saya bingung dengan alamat untuk sholat Jumat
    Amal sholeh kirimkan alamat Mesjid LDII dekat Bandara Makassar seputaran kompleks Angkatan Udara, Ajzkmlhr

    Reply
  • 15. Abu Nuru  |  November 21, 2008 at 2:03 am

    Alamat Mesjid Lembaga Dakwah Islam Indonesia seputaran kompleks Angkatan Udara Makassar

    Reply
  • 16. and1k  |  March 7, 2009 at 12:49 pm

    saya sangat setuju bahwa islam adalah agamacinta damai

    Reply
  • 17. Ratna  |  March 22, 2009 at 12:02 pm

    LDII, memang TOP BGT ! Mgapa baxak org yg g cnank ma Ldii y ? Pdahal ldii mnurut q adl agama yg haq ! Sem0ga LDII selal jaya ! Alhmdll jz hmllhqoiro !

    Reply
  • 18. wawan krisdianto  |  March 24, 2009 at 6:05 am

    ldii memang layak jadi bintang…. t o p deh…
    aslkan kita tetap commitment n konsisten dengan apa yang telah kita ikrarkan… semoga… amin

    Reply
  • 19. DEDE  |  January 6, 2010 at 4:52 am

    Mazzz??? tolong dede??? bagi dunk?? alamat Masjid atau no yang bisa di hubungi saya??? cz saya cari ke mana222 masjid ldii di makassar susah banget!!!!! alamat yg lengkap ya mas ya…..???

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Archives

Twitter LDII News

RSS LDII.or.id

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Nuansa Online

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Blog Stats

  • 299,083 hits

%d bloggers like this: